Selang Dua Hari Digrebek, Pengedar Sabu-sabu di Samarinda Kembali Beroperasi di Tempat yang Sama

Selang Dua Hari Digrebek, Pengedar Sabu-sabu di Samarinda Kembali Beroperasi di Tempat yang Sama

Selang Dua Hari Digrebek, Pengedar Sabu-sabu di Samarinda Kembali Beroperasi di Tempat yang Sama

Pelaku peredaran narkotika seakan tidak pernah jera.

Belum lama tempat transaksi narkobanya digrebek aparat, pengedar kembali beroperasi di tempat yang sama.

Hanya berselang dua hari dari penggrebekan yang dilakukan Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Samarinda, pada Rabu (11/9) lalu di Jalan Merak (Hasan Basri), Gang 1, Kelurahan Temindung Permai, Polsek Samarinda Ulu berhasil mengamankan dua pelaku peredaran narkoba di kawasan tersebut.

Pengungkapan itu didasarkan dari laporan yang masuk ke posko pasar Segiri Bersinar.

Informasi yang masuk ke pihaknya, pengedar berpindah tempat ke kawasan Jalan Merak guna menjajakan narkoba.

Setelah dilakukan penyelidikan dan pemantauan, pada Jumat (13/9) sekitar pukul 23.10 Wita, Unit Reskrim Polsek Samarinda Ulu mengamankan seorang yang hendak keluar dari gang, yakni Feri Angriawan (34).

Tidak berselang lama kembali diamankan seorang pelaku lainnya, yakni Cico Setiawan (32).

Bahkan, salah satu pelaku sempat membuang dua poket sabu ke sebuah pot bunga.

Namun, aksi tersebut diketahui oleh petugas yang langsung meringkus dan menyuruh pelaku kembali mengambil barang yang dibuangnya.

Dari keduanya, didapatkan tiga poket sabu seberat kurang lebih 1,17 gram.

Tidak berhenti pada tangkapan itu saja, petugas langsung melakukan pengembangan untuk menangkap pelaku yang menjualkan sabu kepada keduanya.

Namun, saat petugas mendatangi salah satu rumah dengan bahan utama kayu. Petugas tidak berhasil mengamankan pelaku dari rumah tersebut.

Pasalnya, saat petugas mengamankan dua pelaku sebelumnya, penangkapan itu diketahui oleh seseorang yang diduga memberikan informasi ke pengedar yang ada di rumah tersebut.

"Kita langsung datangi rumah itu, jadi tempat transaksinya ada di samping rumah, ada loket di situ.

Dan, posisi belakang rumah berada tepat di pinggir sungai, kami menduga mereka sempat kabur lewat sungai itu," ucap Kanit Reskrim Polsek Samarinda Ulu, Ipda M Ridwan, Rabu (18/9/2019).

"Jadi, antara pembeli dengan penjual tidak saling melihat wajah, terhalang dinding, karena sistem penjualannya menggunakan loket," sambungnya.

Sementara itu, kedua pelaku teridentifikasi berperan sebagai kurir dan pengguna. Namun demikian, pihaknya masih melakukan pendalaman terhadap keterangan keduanya.

Sumber : Tribun kaltim

Edarkan Sabu, Nenek Satu Cucu Mantan Residivis di Samarinda Kembali Diciduk Aparat Polisi

Edarkan Sabu, Nenek Satu Cucu Mantan Residivis di Samarinda Kembali Diciduk Aparat Polisi

Nenek satu cucu di Kota Tepian harus berurusan dengan Kepolisian akibat mengedarkan narkotika.

Pelaku atas nama Rika Rosday (42), sehari-hari tinggal di kost Jalan Cipto Mangunkusumo, Loa Janan Ilir.

Pelaku diamankan pada Kamis (22/8) lalu di kostnya saat dirinya sedang santap makan malam, sekitar pukul 02.30 Wita.

Tanpa perlawanan, Rika Rosday langsung diamankan Unit Reskrim Polsek Samarinda Seberang.

Saat dilakukan penggeledahan, didapatkan sejumlah barang bukti narkotika jenis sabu,

sebanyak 9 poket seberat 3,68 gram, sendok penakar dan sejumlah uang tunai.

Dari pengakuan Rika Rosday, sabu tersebut merupakan milik suami sirinya yang dititipkan kepadanya untuk dijual kembali.

"Saya hanya jualkan saja. Tidak dibayar, hanya dikasih sabu untuk dipakai," ucap Rika Rosday si pelaku, Minggu (25/8/2019).

Selama menjajakan sabu, Rika Rosday menjual tiga paketan, di antaranya seharga Rp 150 Ribu, Rp 300 Ribu dan Rp 600 Ribu.

Dalam sepekan ini, sudah dua kali Rika Rosday dititipkan sabu untuk dijual kembali.

"Punya suami saya ini, dia nitip ke saya," imbuh Rika Rosday.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Samarinda Seberang Iptu Teguh Wibowo menjelaskan, saat ini pihaknya masih mencari suami pelaku yang telah dimasukan dalam daftar pencarian orang.

"Saat ini kita amankan pelaku, suaminya sedang tidak ada. Saat ini kami sedang cari suaminya," jelas Kanit Reskrim Polsek Samarinda Seberang Iptu Teguh Wibowo.

Rika Rosday bukanlah orang baru di dunia peredaran narkotika.

Rika Rosday sudah pernah menjalani masa pidana dengan vonis pengadilan selama 5 tahun 6 bulan pada 2014 lalu.

"Pelaku ini residivis. Kali ini kembali berurusan dengan Kepolisian. Masih kita kembangkan lagi guna ungkap jaringannya," pungkas Kanit Reskrim Polsek Samarinda Seberang Iptu Teguh Wibowo.

Sumber : tribun kaltim

Lubang Kloset Jadi Tempat Sembunyikan Sabu, 3 Pelaku Diamankan Polsek Sungai Pinang Samarinda

Lubang Kloset Jadi Tempat Sembunyikan Sabu, 3 Pelaku Diamankan Polsek Sungai Pinang Samarinda

Unit Reskrim Polsek Sungai Pinang mengamankan tiga pelaku peredaran narkotika tidak jauh dari "Pulau' narkoba.

Pengungkapan tersebut dilakukan pada Minggu (11/8) dini hari sekitar pukul 03.00 Wita, tepatnya di Jalan DI Panjaitan, yang lokasinya tidak jauh dari salah satu daerah rawan peredaran narkotika di Kota Tepian, Gang Pulau Indah atau yang kerap disebut Pulau narkoba.

Tiga pelaku diamankan diwaktu yang berbeda-beda. Pelaku pertama diamankan yakni Choki (37), saat itu pelaku tengah menunggu pelanggannya. 1 poket sabu seberat 0,43 Gram diamankan dari pelaku.

Ketika petugas masih berada di lokasi penangkapan, seorang pria keluar dari salah satu rumah. Terlihat gelagat mencurigakan dari pria yang bernama Herman (52).

Kepolisian pun langsung melakukan penggeledahan terhadap pria tersebut. Hasilnya, ditemukan 1 poket sabu seberat 0,57 Gram yang disembunyikan di dalam pakaian menggunakan peniti.

Tidak berhenti sampai dua pelaku itu saja, petugas lantas memasuki rumah tersebut. Ketika penggeledahan dilakukan, petugas tidak menemui seseorang maupun narkoba.

Namun, ketika petugas membuka toilet, ditemui seoarang pria yang belakangan diketahui bernama M Resky (23). Kepolisian cukup teliti dalam menemukan narkotika.

Sabu milik M Resky ternyata disembunyikan di lubang kloset yang disimpan di dalam dompet perhiasan. Sabu yang didapatkan sebanyak 20 poket siap edar seberat 0,71 Gram.

"Dari hasil pemeriksaan, ketiga pelaku yang diamankan ini saling keterkaitan," ucap Kapolsek Sungai Pinang, AKP Ramadhanil, Kamis (15/8/2019).

Pengungkapan di daerah tersebut tidak terlepas dari adanya informasi masyarakat. Lokasi tersebut disinyalir kerap dijadikan tempat transaksi narkoba.

Sementara itu, M Resky mengaku tidak merencanakan menyembunyikan sabu di lubang kloset. Hal itu dilakukannya hanya spontan saja ketika mengetahui rekanya tertangkap tidak jauh dari rumah.

"Reflek saja masukan ke lubang kloset," ucapnya singkat.

Kendati demikian, dirinya sempat memasang tali nilon di dompet perhiasan berisi sabu tersebut, guna memudahkannya memgambil kembali dompet tersebut.

Sumber : Tribun kaltim

Dugaan Edarkan Narkoba di Balikpapan, NS Wanita Dua Anak Ini Ditangkap Mengaku tuk Kebutuhan Hidup

Dugaan Edarkan Narkoba di Balikpapan, NS Wanita Dua Anak Ini Ditangkap Mengaku tuk Kebutuhan Hidup

Tak habis pikir, perempuan dua anak berinisial NS ini rela menjual narkoba jenis Sabu di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur demi memenuhi kebutuhan ekonominya.

NS ditangkap jajaran Satresnarkoba Polres Balikpapan pada Senin malam (29/7/2019) kemarin, karena kedapatan memiliki 25 paket sabu yang dikemas dalam satu paket besar seberat 0,9 gram.

Dan 24 paket kecil yang masing-masing paket memiliki berat 0,2 gram.

Ditemui di Mapolres Balikpapan, dengan di borgol besi dan menutupi wajahnya dengan jaket.

NS menceritakan bagaimana dirinya mendapat barang haram kemudian menjualnya.

Alkisah berawal dari kedatangannya di Balikpapan setelah lama pulang kampung ke Sulawesi.

Ia ditawari oleh temannya untuk menjualkan barang haram tersebut.

Walaupun sebenarnya ia tidak mengenal orang yang memberikannya barang itu.

"Saya gak kenal sama orang yang kasih barang itu, cuma dikenalin sama teman aja," ujarnya.

Setelah mendapat barang haram tersebut, dirinya berencana akan menjual kepada teman-temannya yang hendak mencari Sabu untuk dikonsumsi.

"Saya gak nawarin orang, saya cuma jual kepada teman yang mencari saja baru dikasihkan barangnya," ucap wanita 31 tahun tersebut.

Diakuinya, dirinya rela menjual narkoba untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Pasalnya, dirinya mengaku sudah tidak memiliki suami atau janda dengan memiliki dua anak yang mana satu anaknya sekolah SD dan satunya masih belajar di Taman Kanak-Kanak (TK).

"Jual narkoba untuk memenuhi uang makan aja," katanya.

Dirinya juga mengaku baru pertama kali menjual narkoba karena desakan enkonomi.

Ia membeberkan, untuk satu paket besar yang beratnya 0,9 gram ia jual dengan harga Rp 1,8 juta dan dari penjualan itu dirinya mendapat upah sekitar Rp 600 ribu.

"Kalau paket yang kecil-kecil itu nanti upahnya diberikan setelah barangnya habis terjual. Paket yang kecil itu Rp 200an per paket saya jualnya," akunya.

Ia menjelaskan, sebelum menjadi seorang penjual narkoba, dirinya sempat bekerja di Salon, namun sudah berhenti karena pulang kampung ke Sulawesi.

Bahkan, ia juga mengaku pernah mengkonsumsi narkoba, tapi sempat berhenti.

Dirinya menambahkan, ia sangat menyesali perbuatannya dan tidak ingin mengulangi lagi.

Pasalnya, dengan masuknya ia di tahanan membuat dirinya berfikir dan mengkhawatirkan anak-anaknya yang sementara ini dititipkan ke kakak angkatnya karena dirinya mengalami kasus tersebut.

"Saya menyesal mas, saya mikirin anak-anak saya," tutupnya.

Sumber :Tribun kaltim

Lakukan Perlawanan, Kepolisian Tembak Mati Diduga Pelaku Kasus Narkotika

Lakukan Perlawanan, Kepolisian Tembak Mati Diduga Pelaku Kasus Narkotika

Kepolisian terpaksa mengeluarkan timah panas kepada diduga pelaku peredaran narkotika.

Bahkan, akibat tembakan tersebut, membuat yang bersangkutan tewas.

Kejadian itu terjadi pada, Minggu (7/7) malam kemarin, sekitar pukul 22.00 Wita di Jalan Bung Tomo, Kelurahan Baqa, Samarinda Seberang, tidak jauh dari Terminal Bus Banjarmasin.

Malam itu, Ac merupakan pelaku yang hendak diamankan Kepolisian dari Satreskoba Polresta Samarinda.

Namun, Ac melakukan perlawanan. Saat hendak ditangkap dan dilakukan penggeledahan, yang bersangkutan melarikan diri menghindari sergapan petugas.

Bahkan, Ac sempat masuk ke rumah Ketua RT 13, lantas bersembunyi di dalam kamar mandi. Merasa cukup aman, Ac tiba-tiba keluar rumah.

Namun, Kepolisian masih berada di sekitar rumah tersebut dan Ac pun panik, namun tetap berupaya untuk melarikan diri. Tembakan peringatan dikeluarkan Kepolisian.

Bukan berhenti melakukan perlawanan, Ac malah semakin nekat dan mencabut badiknya, lalu mengancam penghuni rumah jika tidak membukakan pintu.

Kepolisian kembali mengeluarkan tembakan peringatan. Tapi, Ac tetap memberontak. Sehingga Kepolisian mengeluarkan tindakan tegas dengan menembak langsung ke arah badan Ac, terdapat sedikitnya tiga peluru yang bersarang di tubuhnya.

Kendati sempat dibawa ke RSUD IA Moeis Samarinda namun Ac tidak terselamatkan.

"Yang bersangkutan membawa senjata tajam, dan sempat mengayunkannya. Peringatan lisan dan tembakan peringatan sudah dilakukan sebelumnya," ucap Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Vendra Riviyanto, Senin (8/7/2019).

Dari informasi yang diterima dari keluarga korban, Ac memiliki sifat yang sangat mudah marah, dan seharusnya Ac menjalani rehabilitasi dari ketergantungan narkotika.

"Kondisi mental, psikis, serta kejiwaanya terganggu, akibat dampak buruk dari narkotika. Dan, jika saat itu tidak dilumpuhkan bisa melukai petugas maupun warga," tegasnya.

Menurut Kapolres, anggotanya telah menjalani prosedur sesuai dengan standar Kepolisian.

Menurutnya saat itu petugas sudah memberikan Peraturan Kepala (Perkap) Kepolisian No 1 Tahun 2009 tentang penggunaan kekuatan dalam tindakan kepolisian yaitu, bahaya terhadap si petugas serta orang lain.

"Sudah sesuai prosedural yang dilakukan petugas di lapangan," imbuhnya.

"Ada barang buktinya, tapi saya tidak tahu berapa persisnya," tutupnya. (*)

Sumber : Tribun kaltim

Jaringan Sabu di Balikpapan Timur Kembali Dibongkar Polisi

Jaringan Sabu di Balikpapan Timur Kembali Dibongkar Polisi

Jaringan narkoba di Balikpapan Timur kembali dibekuk polisi. Dua orang tersangka terpakda menginap di sel Mapolsek Balikpapan Timur, Kamis (27/6/2019).

enter image description herePengungkapan bermula dari adanya laporan masyarakat di kawasan Jalan Mulawarman Gang Teratai RT 07 Manggar Baru, Balikpapan Timur, kerap dijadikab tempat transaksi jual beli sabu.

Polisi langsung melakukan penyelidikan usai menerima laporan tersebut. Kamis dini hari, sekira pukul 00.28 wita, polisi mendapati seorang pria dengan gerak-gerik mencurigakan.

Tersangka langsung digelandang ke Mapolsek Balikpapan Timur. Dari hasil pemeriksaan Dian mengaku sabu dengan berat total 1,05 gram didapat dari Dedi Firmansyah alias Dedi (37), rekannya.

Tim Opsnal langsung memburu Dedi. Sekira pukul 01.30 Wita, Dedi berhasil dibekuk di Jalan Sosial Gang Mentari RT 14 Kelurahan Lamaru, Balikpapan Timur.

"Mereka ini jaringan, Dian mendapatkan sabu itu dari Dedi, sementara Dedi ini masih kami kembangkan, dari mana sabu tersebut dia dapat," tegas Doddy.

https://cdn2.tstatic.net/kaltim/foto/bank/images/tersangka-pengendar-sabu-yang-ditangkap-polisi.jpg Saat dilakukan penggeledahan polisi hanya menemukan telepon genggam dan uang Rp100 ribu, sisa hasil penjualan sabu. Saat dipertemukan kedua tersangka kompak mengakui sabu tersebut milik mereka.

Kedua tersangka dijerat pasal 114 ayat (1) subsider pasal 112 (1) Undang Undang RI nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika, dengan ancaman hukuman di atas lima tahun.

Sumber : Tribun Kaltim

Polisi Belanda Temukan 2,5 Ton Narkoba di Balik Dinding Bangunan Rotterdam

Polisi Belanda Temukan 2,5 Ton Narkoba di Balik Dinding Bangunan Rotterdam

Pihak kepolisian Belanda mengatakan, mereka berhasil melakukan penyitaan terbesar narkoba di Eropa. Mereka menemukan 2,5 ton narkoba yang dikenal sebagai methamphetamine yang disembunyikan di balik sebuah dinding bangunan di kota pelabuhan Rotterdam.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis Rabu kemarin(26/6), polisi menyatakan, narkoba yang ditemukan pekan lalu dan kini sudah dihancurkan tersebut bernilai ratusan juta euro. Menurut mereka, temuan itu merupakan yang terbesar dalam sejarah kriminal Eropa.

Penyelidikan lebih lanjut menghantarkan para detektif ke sebuah gudang di Utrecht di mana mereka menemukan 17.500 liter bahan kimia yang dapat digunakan untuk memurnikan kokain dan memproduksi obat-obat sintetis.

Juru bicara kepolisian Belanda, Thomas Aling, mengatakan, belum ada tersangka yang ditangkap, dan penyelidikan masih berlanjut.