Bakery egg foods around the world

Pompa BBM Mini Perlu Dilengkapi Standar Proteksi Kebakaran

Tumbuhnya usaha pompa mini di Balikpapan, harus disertai dengan standar pencegahan kebakaran.

Dibutuhkan regulasi yang mengatur usaha pompa mini, karena menyangkut keselamatan kerja karyawan dan masyarakat sekitar dari risiko kebakaran.

Walaupun belum ada regulasi khusus yang mengatur soal standar keamanan unit usaha ini. Namun, menurut Dewan Nasional Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Isradi Zainal, mengacu pada Undang-undang no 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, sudah seharusnya setiap orang, peralatan dan potensi sumber bahaya, wajib diproteksi dari potensi bahaya eksternal maupun internal.

Dan, walaupun usahanya kecil, seharusnya ada standar sistem proteksi kebakaran yang sama dengan pompa konvensional, karena resikonya kurang lebih sama.

"Semua (usaha) yang punya potensi bahaya, wajib dapat semacam evaluasi sistem proteksi kebakaran dari pihak terkait," ujar Isradi, Rabu (18/7/2018).

Sistem proteksi itu meliputi, tersedianya Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di lokasi kerja.

Tak hanya itu, pengusaha yang bersangkutan wajib menyiapkan dan menunjuk petugas bersertifikat yang kompeten menangani kebakaran, agar segala hal terproteksi dan terkendali dengan baik.

Setelah alat dan petugas tersedia, perlu dibuat emergency respon team atau tim tanggap darurat, baik yang bertugas memadamkan api, menghubungi pemadam dan lain sebagainya, sehingga, potensi kebakaran bisa diminimalisir dampaknya.

Sinergi alat dan petugas, sistem dan regulasi ini penting, meminimalisir potensi kebakaran.

Setelah pompa, potensi bahaya lain yang harus diwaspadai, yakni tempat penampungan bahan bakar, yang wajib dipastikan aman, jauh dari potensi api, listrik dan tersegel rapat.

Terlebih, di salah satu 'Pom Mini' yang Tribun kunjungi, mampu menampung 150 liter bahan bakar jenis Pertalite dan Pertamax.

Untuk membuktikan tempat penyimpanan itu aman, lanjut dia butuh dibuktikan lembaga terkait, tidak cukup hanya bermodal izin dari warga setempat dan kelurahan saja.

Terpantau, sedikitnya terdapat tiga pompa mini di Kota Balikpapan, semisal di kawasan Balikpapan Timur, Selatan dan Utara.

Di lokasi terakhir yang Tribun jumpai, memang dijumpai, stiker bertuliskan dilarang merokok, bermain telepon seluler dan menyalakan mesin, karena dikhawatirkan berpotensi menyulut api, jika ada kebakaran.

Namun begitu, karena lokasinya berada di pinggir jalan, dan terkesan semi informal, Isradi menyarankan pada penjual dan pembeli menerapkan standar seperti pompa konvensional, menjauhi segala larangan yang berpotensi menimbulkan kebakaran.

Alias, tempat pengisian dan penyimpanan steril dari potensi bahaya.

"Apapun yang berpotensi menimbulkan kebakaran, wajib dilarang," katanya.

Menurutnya, dengan menerapkan prinsip K3 di tempat kerja, sekecil apapun usahanya, tidak akan merugikan pengusaha. Justru, patuh pada hal ini, meminimalisir resiko, kerugian materiil, dan kecelakaan kerja yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

"K3 sebenarnya bukan memberatkan tapi untuk kebaikan pemilik dan masyarakat sekitar, khususnya melindungi pekerja," ujarnya.

Seorang penjaga pompa mini, di kawasan Balikpapan Utara, Lina Rahmawati mengaku memiliki dua drum penyimpanan bahan bakar, masing-masing 200 liter Pertalite dan Pertamax yang berada di belakang bengkel yang dijadikan lokasi usaha penjualan bensin milik ayahnya.

Dalam sehari, ia bisa menjual 120 liter bahan bakar jenis Pertalite dan 30 liter Pertamax.

Luas wilayah yang dijaga Lina sekitar 5X6 meter, bersebelahan langsung dengan jalan raya dan permukiman di kiri dan kanannya. Sambil menunggu pembeli, biasanya ia membantu menjaga bengkel di belakang bengkel.

Pompa mini tersebut digerakkan dengan mesin pendorong berpenggerak listrik 100 Watt.

Terdapat dua nozzel masing-masing untuk BBM jenis Pertamax dan Pertalie. Di dekat panel indikator takaran, tertera stiker larangan, dilarang memainkan handphone, menyalakan rokok dan mesin motor.

Larangan ini, sengaja dipasang menghindari bahaya kebakaran. Larangan itu, ia pegang kuat, ia tak segan menegur calon pembeli yang tak mengindahkan.

"Pokonya dijaga, kalau orang nyalakan rokok dan mesin masih nyala (waktu mengisi bensin) jangan boleh, nanti kita kena imbasnya," ujarnya.

Tak hanya itu, sebagai syarat memperoleh izin usaha, sebelumnya ia telah mendapatkan izin dari tetangga dan keluarlah setempat. Bahkan, pihak Kelurahan mempersyaratkan ketersediaan APAR dan petugas di lokasi usahanya.

Sementara itu, Suseno Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan, dihubungi di hari yang sama menjelaskan, pada prinsipnya menampung BBM memiliki potensi kebakaran.

Untuk itu, pihaknya bakal bekerjasama dengan instansi terkait semisal Satpol PP, Camat dan Kelurahan, mengecek langsung satu per satu lokasi penjualan, melihat sejauh mana standar keamanan pengoperasian pom mini tersebut.

"Perlu dilakukan sosialisasi, tetapi juga harus bersama-sama Instansi terkait, termasuk perizinanya ada atau tidak," ujarnya.

Source: kaltim.tribunnews.co

Wolfskies (19 Juli 2018, 11:54 WITA)

FACEBOOK COMMENTS WILL BE SHOWN ONLY WHEN YOUR SITE IS ONLINE

SHARE THIS PAGE!

Subscribe newsletter 
Thanks for filling out form!