Bakery egg foods around the world

Pada Akhir Juli 2018 Akan Terjadi Blood Moon Terlama Abad Ini, Catat Waktu Kemunculannya

Bulan Juli ini akan sangat menarik bagi yang gemar dengan astronomi dan pengamat bintang.

Sebab menjelang akhir bulan, akan ada 'bulan darah' atau yang biasa dikenal dengan nama blood moon.

Blood moon ini juga merupakan gerhana bulan terlama di abad ke-21!

Fenomena blood moon terjadi ketika sinar matahari tersebar di seluruh atmosfer Bumi.

Jadi, kita akan melihat langit malam jadi peristiwa yang spektakuler, akan berlangsung selama hampir dua jam.

Fenomena ini 40 menit lebih lama dari 'Super Blue Blood Moon' yang terjadi pada bulan Januari tahun ini.

Kapan terjadi?

Seluruh gerhana dan terjadinya blood moon akan terjadi pada malam hari tanggal 27-28 Juli dan berlangsung selama 1 jam, 43 menit.

Gerhana akan mencapai puncaknya pada 08:22 UTC, yaitu 01:52 (Waktu Standar IST-India).

Orang yang tinggal di Australia, Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Selatan akan mengalami kesenangan visual.

Berbicara tentang area di mana gerhana dapat dilihat, Bruce McClure menginformasikan, "Gerhana bulan ini terutama terlihat dari belahan Bumi Timur - Eropa, Afrika, Asia, Australia dan Selandia Baru."

"Amerika Selatan, setidaknya sebagian, dapat menyaksikan tahap akhir dari gerhana hanya setelah matahari terbenam pada tanggal 27 Juli, sedangkan Selandia Baru akan menangkap tahap awal gerhana sebelum matahari terbit pada tanggal 28 Juli."

Apa itu blood moon?

Blood moon adalah saat bulan dalam gerhana penuh.

Di lain waktu, bulan berwarna putih tetapi selama gerhana, berubah menjadi sedikit merah.

Ini karena saat bulan mengorbit di Bumi, Bumi berputar mengelilingi Matahari.

Dalam perjalanan rotasi ini, matahari menerangi permukaan bulan ketika mencapai bulan purnama.

Astronom Bruce McClure mengatakan, "Gerhana parsial mendahului dan mengikuti gerhana bulan total terpanjang di abad ini, setiap kali berlangsung satu jam dan enam menit."

Apakah Anda penasaran dan ingin melihat blood moon paling lama abad ini?

Apakah berbahaya?

Sebuah "Blood Moon" atau "Bulan Darah" sendiri hanya terjadi ketika puncak peristiwa gerhana Bulan total.

Peristiwa ini tidak akan menimbulkan dampak negatif, melainkan justru akan menjadi pemandangan yang sangat indah di langit.

Bulan yang biasanya berwarna putih keabu-abuan akan tampak berubah warna menjadi merah atau cokelat kemerah-merahan.

Itulah mengapa dijuluki sebagai "Bulan Darah" karena warnanya yang memang mirip dengan darah.

Peristiwa "Bulan Darah" ini akan bisa kita amati selama gerhana Bulan total pada 28 Juli 2018 nanti, yang akan terlihat dari seluruh wilayah Indonesia, Asia, Afrika, Eropa, Australia, hingga sebagian Amerika Selatan.

Mengapa Bulan Berwarna Kemerahan?

Seperti dikutip Serambinews.com dari infoastronomy.org bahwa Bulan mengorbit Bumi, sementara Bumi juga mengorbit Matahari.

Bulan membutuhkan waktu sekitar 27 hari untuk sekali mengorbit Bumi dan mengalami perubahan fase dalam siklus 29,5 hari.

Perbedaan dalam kedua siklus ini berkaitan dengan posisi relatif Matahari, Bumi, dan bulan, yang terus berubah seiring berjalannya waktu.

Gerhana Bulan sendiri hanya bisa terjadi pada fase Bulan purnama, yakni saat Matahari akan menerangi permukaan Bulan yang menghadap ke arah Bumi secara keseluruhan.

Namun, tidak setiap Bulan purnama akan terjadi gerhana Bulan.

Hal itu terjadi karena bidang orbit Bulan dalam mengelilingi Bumi diketahui miring sekitar 5 derajat.

Gerhana Bulan hanya terjadi ketika Matahari-Bumi-Bulan benar-benar sejajar di bidang orbitnya.

Bumi akan lewat di antara Bulan dan Matahari sehingga akan menghalangi sinar Matahari yang seharusnya menyinari Bulan, sehingga terjadilah gerhana.

Jika Bumi menghalangi sebagian sinar Matahari yang seharusnya menyinari Bulan, maka akan terjadi gerhana Bulan parsial.

Pada gerhana tersebut, Anda akan melihat bayangan hitam yang tampak "menggigit" Bulan.

Terkadang, Bulan juga hanya melewati bagian yang lebih terang dari bayangan Bumi, yang dikenal sebagai bayangan penumbra, sehingga rona Bulan hanya akan meredup sedikit dalam peristiwa yang dikenal sebagai gerhana Bulan penumbra.

Terakhir, ketika Bulan memasuki seluruh bayangan gelap (umbra) Bumi, maka sesuatu yang spektakuler terjadi. Bulan tidak akan gelap gulita, melainkan akan tampak berwarna kemerahan.

Warna merah tersebut berasal dari cahaya dari Matahari juga. Cahaya Matahari terdiri dari berbagai frekuensi warna, mulai dari cahaya berfrekuensi rendah hingga yang berfrekuensi tinggi.

Saat cahaya Matahari menerobos atmosfer Bumi kita, cahaya berfrekuensi tinggi seperti hijau, biru, dan ungu bakal lebih mudah dihamburkan oleh molekul atmosfer Bumi dibandingkan cahaya berfrekuensi rendah seperti cahaya kuning, oranye dan merah. Penghamburan cahaya berfrekuensi tinggi ini menyebabkan langit berwarna biru di kala siang.

Dengan begitu, cahaya berfrekuensi rendah dari Matahari ini akan dengan mudah melewati atmosfer dengan jalur yang lurus dan hampir tidak akan memantul jika berinteraksi dengan molekul di atmosfer Bumi kita. Pembiasan atmosfer akan mengubah arah cahaya tersebut ke arah umbra Bumi.

Bulan yang berada di area umbra ketika gerhana Bulan total berlangsung pun maka akan tampak merah akibat pembiasan cahaya ini.

Walau begitu, seberapa merahnya Bulan saat gerhana Bulan total bergantung pada seberapa banyak polusi, tutupan awan, maupun kotoran yang ada di atmosfer. Misalnya, jika gerhana terjadi sesaat setelah letusan gunung berapi, partikel di atmosfer akan membuat Bulan terlihat lebih gelap dari biasanya, bukan merah terang.

Para ilmuwan biasanya mengukur kemunculan dan kecerahan gerhana Bulan total menggunakan skala yang memiliki lima titik -- mulai dari 0 sampai 4 -- yang disebut sebagai Skala Danjon.

Meskipun ada banyak planet dan bulan-bulan lain di tata surya kita, hanya Bumi saja lho yang cukup beruntung untuk mengalami peristiwa gerhana Bulan karena bayangannya cukup besar untuk menutupi permukaan Bulan sepenuhnya.

Fakta menarik: Jika Anda cukup beruntung untuk melihat gerhana Bulan total dari permukaan Bulan, Anda akan melihat adanya cincin merah yang mengelilingi Bumi. 

Wolfskies (29 Juni 2018, 12:36 WITA)

FACEBOOK COMMENTS WILL BE SHOWN ONLY WHEN YOUR SITE IS ONLINE

SHARE THIS PAGE!

Subscribe newsletter 
Thanks for filling out form!