Bakery egg foods around the world

Nelayan Tuntut Tanggung Jawab Cemaran Batu Bara di Laut Manggar

Perjalanan mediasi antara nelayan tradisional Manggar dengan perusahaan batu bara PT Gunung Bayan Pratama Coal kembali berlanjut, dilaksanakan di kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Balikpapan, Jl Jenderal Sudirman, Sepinggan, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur.

Pengamatan Tribunkaltim pada Sabtu (30/6/2018), acara mediasi tersebut sudah berlangsung sekitar pukul 09.00 Wita.

Kegiatan medasi ini di antaranya dihadiri oleh Camat Balikpapan Timur Suranto, Kompol R Dody Kapolsek Balikpapan Timur.

Termasuk hadir Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) kelas I Balikpapan, Jhonny Runggu Silalahi dan Brekes juru bicara PT Gunung Bayan Pratama Coal.

Sementara pihak dari Dinas Keluatan dan Perikanan Provinsi Kaltim dan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kaltim dan Kota Balikpapan.

Saat berjalannya medasi, Darwis nelayan Manggar sampaikan kepada para audiens yang hadir di mediasi sekitar puluhan orang.

Darwis menjelaskan, probelmatika para nelayan dengan perusahaan PT Gunung Bayan titik beratnya bukan pada bahasan pergeseran aktivitas bongkar muat di laut Manggar.

Solusi yang ingin dicapai bukan mencari di mana titik lokasi pergeseran bongkar muat namun lebih kepada sejauh mana pertanggungjawaban perusahaan baru bara terhadap dampak lingkungan di laut.

"Selama ini yang kita lihat itu dampak negatifnya, kotoran apa yang dihasilkan dari kegiatan bongkar-muat. Yang kita pertanyakan, yang kita permasalahkan cemaran lingkungannya," katanya.

Darwis menegaskan dalam mediasi itu, bahwa pihak perusahaan harus tanggung jawab atas semua kotoran yang jatuh ke laut.

"Tidak ada lagi limbah bongkahan batu bara yang jatuh ke laut, perusahaan bisa menjamin tidak ada kotoran di situ, silakan saja beraktivitas di situ," ujarnya.

Aktivitas bongkar muat batu bara di perairan laut Manggar jaraknya sekitar 8 mil dari daratan kampung nelayan Manggar Balikpapan Timur.

Menurut versi nelayan Manggar, aktivitas bongkar muat atau ship to ship ini mengganggu proses penangkapan ikan termasuk pelayanan merasa terganggu adanya cemaran bongkahan batu bara yang jatuh ke laut.

"Dihitung kasarnya, nelayan mengalami kerugian kisaran Rp 200 ribu kehilangan pendapatan adanya bongkar muat," tutur Salamat, nelayan Manggar lainnya.


Wolfskies (30 Juni 2018, 12:05 WITA)

FACEBOOK COMMENTS WILL BE SHOWN ONLY WHEN YOUR SITE IS ONLINE

SHARE THIS PAGE!

Subscribe newsletter 
Thanks for filling out form!